CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Sabtu, 16 Januari 2010

CDR X3

coreldraw


Mengenal CorelDRAW



Sering dengar kan istilah coreldraw? Bagi sobat khususnya para design grafis, sudah tidak asing lagi dengan yang namanya corelDRAW. CorelDraw adalah sebuah program editor grafik vector yang di ciptakan oleh Corel “sebuah perusahaan di Kanada”. Tahun kemarin alias 2008 Corel mengeluarkan versi terbarunya, yaitu versi 14 atau yang sering kita kenal X4. Dalam mengenal corelDRAW ini, saya memakai versi 12, ya mungkin sudah lumayan jauh ketinggalan, tapi tidak begitu banyak berbedaannya.

Program Corel Draw banyak digunakan diindustri desain grafis selain adobe phothoshop, Illustarator maupun Macromedia Freehand. Corel Draw ini banyak digunakan untuk mendesain berbagai macam media publikasi mulai dari majalah, tabloid, buku de-el-el.

Untuk memulai program Corel Draw, tidak jauh berbeda bahkan sama dengan program-program komputer lain, yaitu dengan mengklik star kemudian pilih coreldraw “sudah terinstall” :







coreldraw-new-doc

Kalo yang baru pertama kali memakai alias masih coba-coba, langsung klik -> new, untuk memasuki dokumen baru :

lembar-kerja-cdr

Keterangan :

1. Title bar : Menampilkan nama program, lokasi dan nama file yang sedang aktif.
2. Menu bar : Berisi 11 kelompok menu untuk mengakses perintah, sub menu dan kotak diaolg.
3. Standard menu : Berisi perintah-perintah standar window seperti new, open, copy, paste, print dll. Juga beberapa perintah CorelDRAW seperti import, exsport, zoom level dll.
4. Property bar : Berisi icon untuk mengatur parameter suatu perintah atau obyek yang sedanga aktif.
5. Ruler : Digunakan sebagai alat ukur saat membuat obyek pada halaman kerja.
6. Toolbox : Berisi kumpulan tool untuk mengedit dan menggambar obyek.
7. Drawing window : Area untuk menggambar, apabila kita menggambar diluar area maka ketika kita print obyek tidak akan tercetak.
8. Scroolbar : Digunakan untuk melihat area sekitar area kerja kita. Kita bisa melihat area sebelah kanan, atas, kiri, bawah dengan cara menekan dan menahan scrollbar ini.
9. Page flipper : Dipakai untuk menambah halaman, untuk berpindah dari satu halaman ke halaman lain.
10. Status bar : Menampilkan posisi mouse, daftar shortcut, serta informasi seperti warna,ukuran, posisi.

Efek Kilatan Petir

petirDHUUUUaaaarrrrrrrrr!!!!….
Suara petir yang aneh.. ;) but any way, terlepas dari bagaimana suaranya tadi, di tutorial kali ini kita mau buat efek dari kilatan petir tadi, bagaimana, tertarik? Ayo kita mulai:

1. pertama buka photoshopmu dan buat document baru dengan ukuran 500 x 500, lalu pastikan warna default yang sedang aktif adalah hitam dan putih, jika ternyata bukan, tekan tombol huruf D pada keyboard untuk kembali ke default.

2. render dokumen dengan efek clouds, caranya klik menu FILTER > RENDER > CLOUDS, tampilannya akan seperti ini:
12

3. render sekali lagi dokumentnya, tapi kali ini pake diferrence clouds, caranya klik menu FILTER > RENDER > DIFFERENCE CLOUDS, hasilnya :


21

4. kok petirnya hitam?? Tenang ini belum selesai, sekarang untuk membalikkan warna hitamnya tekan tombol Ctrl + i atau invert.
31

5. wah sudah mulai terlihat petirnya..  nah sekarang untuk mempertajam petirnya tekan tombol Ctrl + L pada keyboard untuk setting Level. Geser anak panah yang berada pada bagian tengah kearah kanan untuk mempertajam efek petir, seperti pada gambar dibawah ini..
42

Hasilnya seperti ini:
54

6. eh udah keliatan tuh petirnya, tapi kok hitam putih ya, gak seru.. yaudah sekarang kita warnain aja petirnya okeh, sekarang tekan Ctrl+B atau color balance, lalu seting seperti dibawah ini, atau bisa juga sesuai selaramu:
6

Ini dia hasilnya… TARAAAAAAA…!!!
petir

sebuah petir yang berwarna biru…
waaahhh indah nian.. ;)
that all guy’s… keep the spirit..

SBY Resmikan Proyek Lapangan Gas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan meresmikan Proyek Lapangan Gas Sisi dan Nubi di daerah Senipah di Tenggarong, Kalimantan, di Kantor TOTAL T&T INDONESIE. Adapun proyek tersebut memiliki cadangan gas sebesar kurang lebih 250 miliar bmo, serta dapat diproduksi lebih dari satu dasawarsa.

Lapangan gas Sisi ditemukan tahun 1986 dan lapangan Nubi ditemukan tahun 1982, masing-masing terletak di lepas pantai berjarak 25 KM dari Selat Mahakam untuk Lapangan gas Sisi, sedangkan Nubi terletak 30 km sebelah tenggara lapangan Tunu.


ni merupakan lapangan Sisi Mini yang dimiliki TOTAL 47,9 persen, INPEX 47,9 dan Pertamina 4,2 persen. Lapangan ini memiliki 17 sumur yang telah dibor pada 1992 dan 1997 serta mulai produksi 20 November 2007.

Selain itu, pihak TOTAL juga membangun pipa bawah laut yang hasil produksinya akan dikirim ke Bontang. Dan kondensat, yang akan dikirim ke Balikpapan.

Di samping itu, SBY rencananya juga akan meresmikan proyek infrastruktur Departemen SDM dan Pekerjaan Umum provinsi Kalimantan Timur. Termasuk menyerahkan bantuan langsung masyarakat mandiri.

Acara tersebut dihadiri oleh Dirut PLN, Menteri Koordinator Kesra, Menteri PU, Menteri SDM dan pejabat sementara Gubernur Kalimantan Timur Tarmizi Karim

Mekanisme Pendorong Reservoir

Terjadinya gerakan atau aliran minyak/gas kedalam lubang bor disebabkan karena adanya tenaga dorong dari dalam reservoir. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh satu atau kombinasi dari beberapa macam jenis tenaga pendorong yang ada.
Fase awal dari produksi ini disebut fase produksi primer (primary production). Mekanisme pendorong reservoir ini dibagi empat : Dissolved/Solution Gas Drive, Gas Cap Drive, Water Drive dan Combination Drive.

1. Solution/Dissolved Gas Drive
Solution/Dissolved Gas Drive dapat terjadi bila hidrokarbon yang berwujud cairan ketika dalam reservoir berubah menjadi gas sewaktu di produksi. Gas yang terbentuk ini akan mendorong minyak kedalam lubang bor. Pada mekanisme ini tekanan reservoir akan turun drastis, sehingga pompa ataupun alat pembantu lainnya harus digunakan pada tahap awal produksi. Minyak yang dapat diambil dari reservoir (oil recovery) dengan mekanisme ini adalah 5 – 30%.

2. Gas-Cap Drive
Gas-Cap drive terjadi bila terdapat gas cap diatas minyak dalam reservoir. Penurunan tekanan menyebabkan berkembangnya gas cap yang mendorong minyak kedalam lubang bor. Penampilan reservoir dalam gas-cap drivehampir sama dengan pada dissolved-gas drive, hanya turunnya tekanan tidak drastis karena adanya gas cap yang menghasilkan sejumlah energi. Oil recovery 20-40%.

3. Water Drive
Air dalam reservoir biasanya berada dibawah tekanan fluida yang sebanding dengan kedalaman dibawah permukaan tanah. Makin dalam letak air itu, makin tinggi tekanannya. Water drive terjadi bila terdapat air dalam jumlah banyak pada reservoir yang dapat mendorong minyak kedalam lubang sumur. Air langsung akan mengisi ruang yang ditinggalkan minyak. Tekanan dalam reservoir akan tetap tinggi selama penggantian minyak dengan air terjadi dalam jumlah yang sama. Oil recovery dapat mencapai 50%.

4. Combination Drive
Combination drive adalah mekanisme pendorong yang mempunyai satu atau lebih untuk mendorong fluida minyak ke lubang bor, antara lain Gas-cap drive dengan water drive.

PENGEBORAN

Di kegiatan industri migas upstream terdapat dua operasi utama yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan, yaitu pengeboran dan produksi. Keduanya menghasilkan limbah dalam volume yang signifikan. Pengelolaan lingkungan memerlukan pemahaman mengenai limbah-limbah ini dan bagaimana mereka dihasilkan.

Pengeboran (drilling) merupakan proses pembuatan lubang ke dalam tanah agar hidrokarbon yang berada di bawah tanah mengalir ke permukaan. Limbah yang dihasilkan selama pengeboran adalah batu (cutting) yang disisihkan untuk membuat lubang, fluida untuk mengangkat cutting ke permukaan, dan bahan-bahan lain yang ditambahkan ke fluida untuk mengatur sifat fluida agar sesuai dengan kondisi batuan yang akan dibor.

Produksi merupakan proses di mana hidrokarbon yang mengalir ke permukaan diolah dan digunakan. Air sering ada bersama-sama hidrokarbon. Air mengandung banyak kontaminan, mencakup hidrokarbon (terlarut dan tersuspensi) serta materi organik (seperti padatan terlarut dan tersuspensi). Sejumlah chemical juga digunakan selama produksi untuk memastikan operasi berjalan efisien.

Selama kegiatan pengeboran dan produksi, sejumlah polutan diemisikan ke udara. Sumber utama polutan adalah emisi dari combustion engine. Sumber lainnya relatif sedikit, seperti fugitive emission dan aktivitas remediasi.



PENGEBORAN

Proses pengeboran sumur minyak dan gas menghasilkan berbagai jenis limbah. Ada yang merupakan hasil samping alamiah (seperti cutting), ada juga yang berasal dari materi yang digunakan untuk mengebor sumur (seperti drilling fluid dan zat aditif).

1. Sekilas Proses Pengeboran

Sebagian besar sumur minyak dan gas dibor dengan menekankan drill bit ke batuan dan memutarnya hingga batuan hancur. Rig dan sistem pengeboran didesain untuk mengontrol bagaimana drill bit menekan batuan, bagaimana cutting disisihkan dari sumur dengan drilling fluid, dan bagaimana memisahkan cutting dari drilling fluid sehingga drilling fluid dapat digunakan kembali.

Dampak primer dari kegiatan pengeboran adalah cutting dan drillling fluid untuk mengangkat cutting dari sumur. Dampak sekundernya adalah emisi dari internal combustion engine untuk menggerakkan rig.

Selama pengeboran, fluida diinjeksikan ke drill string dan melalui lubang kecil pada drill bit. Drill bit dan lubangnya didesain agar fluida dapat membersihkan cutting dari bit. Fluida, dengan cutting yang tersuspensi di dalamnya, mengalir kembali ke permukaan melalui anulus di antara drill string dan formasi. Di permukaan, cutting dipisahkan dari fluida. Cutting kemudian ditempatkan di pit untuk pengolahan lebih lanjut dan dibuang. Sedangkan fluida diinjeksikan kembali ke drill string.

Fluida dasar (base fluid) yang umum digunakan pada proses pengeboran adalah air, lalu minyak, udara, natural gas, dan foam. Jika base fluid-nya cair (baik oil-based maupun water-based), disebut mud (lumpur). Penggunaan water-based drilling fluid sekitar 85% di seluruh dunia.

Selama proses pengeboran, sebagian mud kemungkinan masuk (lost) ke formasi di bawah tanah yang permeabel. Untuk memastikan ketersediaan mud, tambahan mud disediakan di permukaan, ditempatkan di mud pit. Ukuran mud pit bervariasi, bergantung pada kedalaman sumur. Luasnya bisa mencapai 1 acre (+ 0,4 ha) dengan kedalaman hingga 3 m. Tangki baja bisa juga digunakan untuk mud pit, khususnya untuk operasi di offshore. Pit juga digunakan untuk menyimpan persediaan air, limbah cair, cutting, rigwash, dan runoff air hujan.


Sumber : Environmental Control In Petroleum Engineering, John C. Reis, Gulf Publishing Company, Houston, 1996

Jumat, 15 Januari 2010

Sarat terbentuknya batuan sedimen Batuan silisiklastik dan karbonat

Batuan silisiklastik dan karbonat memiliki perbedaan yang sangat kontradiktif
dalam hal perilaku hidrolika, sejarah diagenesa, dan terutama adalah lingkungan
pembentukan. Batuan karbonat memiliki syarat-syarat tertentu untuk dapat tumbuh
dan berkembang dalam suatu lingkungan, dimana syarat-syarat ini sangat
bertentangan dengan kondisi pembentukan batuan sedimen silisiklastik sehingga kita
sering berasumsi bahwa adalah hal yang tak mungkin bila batuan sedimen silisiklastik
berada pada lingkungan yang sama dengan batuan karbonat.

Namun kedua batuan ini dapat berada pada lingkungan pengendapan yang
sama. Kenyataan membuktikan, bahwa walau tidak dalam jumlah yang melimpah, di
beberapa tempat sering kita temukan batuan sedimen campuran silisiklastik dan
karbonat. Contoh deskripsi lapangan dari batuan ini adalah batupasir gampingan,
batugamping pasiran, napal, dan lainnya. Percampuran kedua batuan ini terutama
berada pada lingkungan paparan samudera dan dapat terjadi melalui 4 proses yang
dapat berkerja sendiri-sendiri maupun secara bersamaan, yaitu 1) punctuated mixing,
2) facies mixing, 3) in situ mixing, dan 4) source mixing.
Punctuated mixing adalah percampuran yang disebabkan oleh badai dengan
intensitas tinggi sehingga dapat membawa material silisiklastik untuk diendapkan di
lingkungan karbonat, maupun sebaliknya. Facies mixing adalah percampuran yang
mengikuti Hukum Walther yang mengatakan bahwa perubahan stratigrafi secara
vertikal juga akan tercermin secara lateral. Sehingga bila dalam penampang vertikal
ditemui perubahan bergradasi dari batuan karbonat menjadi silisiklastik, maka secara
lateral juga akan ditemui perubahan yang bersifat demikian. In situ mixing adalah
percampuran akibat akumulasi organisme karbonat di dalam lingkungan silisiklastik.
Sedangkan source mixing adalah percampuran akibat carbonate terrane yang
mengalami pengangkatan kemudian tererosi dan memberikan suplai materialnya ke
lingkungan silisiklastik.

Beberapa peneliti sudah mencoba untuk memberi penamaan terhadap jenis
batuan ini, seperti Folk (1959, 1962), Leighton & Pendexter (1961), Pettijohn (1975),
William et. al (1982), dan yang lebih spesifik lagi adalah Mount (1985). Masingmasing
klasifikasi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri.
Bahkan analisa optik kuantitatif pun telah dilakukan guna mendapatkan informasi
geologi lebih lanjut, seperti genesa dan studi provenance.
Sebagai contoh adalah kasus batuan sedimen campuran silisiklastik dan
karbonat yang terdapat di Menorca, Spanyol. Pada daerah ini tersingkap terrigeneous
dolomite yang berumur Miosen di wilayah Pantai Migjorn. Dari hasil analisa optik
kuantitatif diketahui bahwa butir dolomite pada terrigeneous dolomite tersebut bersifat
extrabasinal. Dua batuan sumber yang mungkin menghasilkan butiran dolomite
tersebut berada pada blok Tramuntana di sebelah utara Pantai Migjorn, yaitu Formasi
Muschelkalk yang berumur Triassic dan dolostone yang berumur Jurassic. Keduanya
memiliki kenampakan petrografis yang sama dengan terrigeneous dolomite Miosen,
namun dari analisa melalui microprobe electron diketahui bahwa dolostone Triassic
bersifat ferroan, dolostone Jurassic bersifat nonferroan, demian juga dengan
terrigeneous dolomite Miosen. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sumber
detrital dolomite berasal dari dolostone Jurassic dan terjadi secara source mixing.

PIPA



Desain perpipaan mencakup pemilihan diameter, tebal, dan material yang akan digunakan. Diameter pipa dipilih berdasarkan kapasitas alir yang diperlukan untuk mengirim fluida dari sumur minyak atau gas.

Untuk pipa bertekanan tinggi atau pipa laut dalam, grade material yang digunakan biasanya X-60 atau X-65 (414 atau 448 MPa), kecuali untuk pipa berdiameter besar. Grade yang lebih rendah seperti X-42, X-52, atau X-56 digunakan untuk air dangkal, tekanan rendah, atau diameter pipa besar (untuk mereduksi biaya material).

Ada beberapa tipe pipa, yaitu :

. Seamless

. Submerged arc welded (SAW or DSAW)

. Electric resistance welded (ERW)

. Spiral weld





Pipa tipe seamless dan SAW sering digunakan. Untuk diameter 12 in atau lebih rendah, tipe seamless biasanya menjadi pilihan utama. Jika pipa tipe ERW yang digunakan, diperlukan perlengkapan inspeksi khusus, seperti full body ultrasonic testing. Pipa spiral weld jarang digunakan untuk minyak/gas dan hanya digunakan untuk air dengan tekanan rendah.

Penentuan ketebalan dinding pipa didasarkan pada tekanan internal desain atau tekanan hidrostatik eksternal. Peningkatan ketebalan dinding pipa kadang-kadang menjamin stabilitas hidrodinamika sebagai pengganti metode stabilisasi (seperti weight coating).

Bai (2001) merekomendasikan prosedur untuk mendesain ketebalan dinding pipa :

Langkah 1 : Menghitung ketebalan minimum dinding pipa berdasarkan tekanan internal desain.

Langkah 2 : Menghitung ketebalan minimum dinding pipa berdasarkan tekanan eksternal.

Langkah 3 : Menambahkan corrosion allowance pada dinding pipa.

Langkah 4 : Memilih ketebalan dinding.

Langkah 5 : Mengecek ketebalan dinding untuk hydrotest.

Langkah 6 : Mengecek untuk penanganan praktis (pipa dengan D/t > 50 sulit ditangani, pengelasan dengan dinding pipa <>

Desain perpipaan biasanya merujuk pada ASME B31.4 (ASME, 1989), ASME B31.8 (ASME, 1990), and DnV 1981 (DnV, 1981). ASME B31.4 untuk pipa minyak di North America. ASME B31.8 untuk pipa gas dan fluida dua fasa di North America. DnV 1981 untuk pipa minyak, gas, dan fluida dua fasa di North Sea.

Sumber : Offshore Pipelines, Boyun Guo, Shanhong Song, Jacob Chacko, Ali Ghalambor, Gulf Professional Publishing, Oxford, 2005